Apa dampak Pisikologi Penyebaran Hoaks


Infiltrasi informasi hoaks yang digencarkan Saracen dan MCA berjalan masif seiring dengan meningkatnya minat baca berita daring masyarakat Indonesia.

Ironinya, korban berita hoaks itu terdiri atas golongan masyarakat menengah ke atas. Mereka ikut terbawa arus kebencian hanya karena membaca berita yang mengulas tokoh atau kelompok yang dibencinya.

Tanpa meneliti lebih lanjut, apalagi mengkomparasikan dengan informasi lain, mereka langsung menekan tombol suka dan bagi. Tanpa sadar mereka juga ikut memobilisasi toksin hoaks ke orang lain.

Duduk persoalan di atas sebenarnya sederhana. Pertama, dalam perspektif literasi kritis, orang yang bisa membaca teks bukan berarti mampu memahami informasi. Kondisi demikian membutuhkan kejelian dan kejernihan pikiran.

Tanpa keduanya mereka hanya menjadi obyek pasif dari informasi, bukan subyek aktif yang selalu waspada dan menjaga jarak darinya.

Kedua, sikap tergesa-gesa menyimpulkan topik pembahasan berita tanpa melakukan penyelidikan komparatif. Perangai ini dimiliki oleh mereka yang tak memedulikan isi informasi karena terseret arogansi pribadi.

Oleh sebab itu, bila terdapat berita yang bertentangan dengan pandangan politiknya akan segera ditolak, bahkan disalahkan hanya karena berseberangan pandangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Lagi Sebut Muslim Cyber Army Kata Wakapolri

Polisi Tidak Nyaman dengan Sebutan Muslim Cyber Army Ungkap Kapolri

Banyak Negara "Hancur" Akibat Konflik SARA